Thursday, November 6, 2008

TUNGKU BATU KAPUR


Orang biasa memanggilnya Ratam. Sosoknya sama dengan orang kebanyakan,yang buatnya beda karena di usia yang masuk kepala tujuh, ia masih bergelut juga dengan batu kapur. Sebagai pembuat tungku masak. Banyaknya waktu dan tenaga yang harus tersita dan pendapatan tidak seberapa membuat pekerjaan semacam ini tidak dilirik banyak orang. Saat ini mungkin cuma Ratam satu-satunya orang, yang mau bekerja sebagai pembuat tungku masak dari batu. Tak heran jika di wilayah karisidenan Banyumas, cuma di desa Mandirancan Kebasen kita bisa menemukannya. Itupun hanya Ratam yang memproduksinya.
Hampir separuh umurnya ia habiskan untuk menghancurkan bukit kapur di depan rumahnya, memilah untuk menemukan intinya yang keras,memahat satu-satu,membentuk dan menghaluskannya menjadi tungku. "Tidak semua orang bisa beli kompor,mahal harganya" tegas Ratam. Mungkin itu salah satu alasannya tidak beralih pekerjaan. Semuanya ia lakukan untuk memastikan setiap orang disekitarnya bisa mengepul asap dapurnya,lewat tungku masak yang ia buat. Sebuah keinginan sederhana yang tidak setiap orang mau melakukannya.

Berawal Dari Gunung Kapur

"Membuat tungku ini tidak perlu modal, asal ada bahan dan alat sekedarnya kita bisa membuatnya" ujar Ratam menjelaskan. Itu pula yang ia lakukan, setelah memiliki keluarga di tempatnya sekarang. Ia memulai usaha hanya bermodal pahat,linggis,palu besi seberat 4 kg dan tenaga. Hamparan bukit kapur di tempat tingalnya sekarang yang memberi inspirasi bagi Ratam untuk membuka usahanya. "Dulu khan saya kerja di tempat orang lain,sekarang ada bahan yang jumlahnya lebih banyak dan lebih baik. Maka saya nekat untuk buat tungku sendiri" kata Ratam sembari tersenyum mengingat masa lalunya. Tapi Ratam tidaklah sekedar nekat, keahlian sebagai pembuat tungku batu ia dapatkan setelah bertahun-tahun sebelumnya menimba ilmu di tempat kelahirannya.
"Dulu bukit kapur ini masih tinggi " jelas Ratam sembari menunjuk gundukan batu yang masih tinggi. Setidaknya ia telah menghabiskan waktu hampir satu tahun sejak tahun 1977, menggali dan meratakan bukit yang menjulang menjadi lembaran-lembaran batu keras yang siap dibentuk menjadi tungku. Hanya ditemani mertua laki-lakinya, semua pekerjaan itu ia lakukan. Itu tahun-tahun pahit yang harus dilaluinya,sebab hampir selama tiga bulan yang mereka lakukan hanya menggali dan memisahkan batu satu demi satu.Sama sekali belum ada tungku yang bisa dia buat. Beberapa saat setelah itu,baru ada orang yang tertarik bekerja di tempatnya. "Saya ingat ada sekitar dua orang, itupun syaratnya mereka bawa alat sendiri. Sebab saya tidak punya alat lagi" tuturnya lebih lanjut.
Selama hampir 30 tahunan membuat Tungku Batu Kapur banyak hal yang telah dialami Ratam, mulai dari gonta-ganti orang yang bekerja di tempatnya sampai kesulitan dia yang harus setiap waktu ada di tempat menularkan keahlian yang dia miliki. "Pernah saya punya tenaga sepuluh orang,tapi ya itu seperti cuma ada lima orang. Sebab saya harus selalu juga tangani sendiri" kata Ratam menjelaskan tentang sulitnya mengajari orang membuat tungku.
Saat sekarang ada lima orang yang bekerja di tempatnya, dengan jumlah produksi sehari lima buah tungku,karya Ratam ini menyebar di hampir semua desa dari Banyumas sampai Banjarnegara.

Tungku Batu Kapur Ratam

Apabila kita ingin mendapatkan tungku batu Ratam,hal pertama yang harus kita pertibangkan adalah kebutuhan kita. Sebab ia membarikantiga pilihan model tungku yang bisa digunakan. Jika yang dibutuhkan hanya untuk menanak nasi dan menjerang air, kita bisa jatuhkan pilihan ke tungku dua lobang. Satu lobang cukup besar untuk menanak nasi atau sayuran dan satunya menjerang air.Tapi tentu saja dengan ukuran wadah yang tidak teralalu besar. Ada lagi model kodokan. "Model ini biasa dipakai untuk memasak dalam panci atau penggorengan besar.Seperti menggoreng tahu,gula" ujar Ratam menjelaskan. Sebab tungku bentuk kodokan ini punya lobang paling besar. Lalu jika yang kita butuhkan adalah memasak dengan beberapa aktivitas sekaligus,kita bisa memilih tungku tiga lubang. Dipastikan ada banyak waktu yang bisa di hemat,karena tidak perlu menunggu satu-satu selesai.
Untuk membuat karya seperti Ratam,ternyata tidak semudah membalik telapak tangan. Butuh keahlian dan ketelitian, tak heran jika sering kali Ratam harus turun tangan memeriksa bentuk pahatan dan kehalusan tungku. " Kalau tidak seperti itu,nanti saya yang disalahkan pembeli " kata Ratam lagi.
Setidaknya dibutuhkan minimal tiga orang untuk menghasilkan satu buah tungku masak, dimulai dari memecah bahan atau lapisan luar dari batu kapur yang berwarna kecoklatan sampai menemukan lapisan abu-abu yang keras dan memisahkannya. "Tapi kapur coklat itu tidak dibuang, itu bisa diolah lagi menjadi krosok atau campuran halus bahan bangunan,gamping atau buat pengeringan tanah" ujar Ratam menjelaskan. Berikutnya memahat batu kapur keras menjadi kotak-kotak dan melobanginya sesuai model yang ditentukan. Tahap terakhir penghalusan bentuk jadi tungku dan melapisinya dengan semen. Baru setelah itu kita bisa dapatkan tungku yang kita inginkan yang beratnya rata-rata 60-80 kg. Memang kelihatan berat, karena bahannya terbuat dari batu. Tapi satu hal, hanay dengan merogoh kantong Rp.25-30ribu selama tiga tahun kita bisa menggunakannya untuk memasak terus menerus.tanpa khawatir akan rusak.
"Tapi semuanya tergantung ketrampilan masing-masing, ada yang cepat dan tidak. Saya dulu dalam sehari bisa membuat 2-3 tungku sendiri" ujarnya. Tapi tak berarti Ratam mengeluhkan keadaannya sekarang. Sebab baguinya bisa membuat 4-5 tungku dalam sehari dengan 5 orang tenaga kerja yang ia miliki bukan sebuah persoalan. "Saya sekarang hanya bisa mengawasi,maklum sudah tidak sekuat dulu" katanya sembari tersenyum. Tak ada gurat penyesalan di wajah Ratam, meski ia hanya mendapatkan Rp.3ribu pertungku yang terjual. Dan meski ia juga tahu anak-anaknya tidak ada yang meneruskan jejaknya.

Tuesday, October 28, 2008

NURHAYATI dan PUJI LESTARI, DUKA KAUM PEREMPUAN di BANYUMAS

Partai Demokrat sebagai representasi SBY berkata bahwa pencapaian pemerintahnya selama tahun 2004-2008 telah berhasil menurunkan angka pengangguran menjadi 8,5 % dan angka kemiskinan tinggal 15,4 %. Pesan ini dikemas secara provokatif dengan membeli separuh halaman muka, harian Kompas, Senin 20 Oktober 2008. Dipropagandakan pula beberapa hal yang kesimpulannya SBY telah sungguh-sungguh ”Berjuang Untuk Rakyat.”
Sah sebetulnya hal tersebut dilakukan. Mengingat hajat besar PEMILU sudah di depan mata. Semua pihak yang berkepentingan untuk menang berlomba-lomba, dengan berbagai macam cara untuk merebut hati pemilihnya. Salah satunya adalah berpropaganda atau melakukan marketing politik melalui media massa. Lewat medialah shortcut terhadap ingatan masyarakat dilakukan. Agar publik mengamini dan meyakini sebagai yang paling baik dan layak.
Yang menggelitik kemudian adalah cerita dari seseorang yang kebetulan dekat dengan saya beberapa hari lalu. Beliau menuturkan nasib tragis dua orang perempuan yang dianiaya oleh majikannya di tanah orang. Sementara di tangan saya ada lembaran koran yang berisi hal baik, keberhasilan dan optimisme. Gatal kemudian tangan saya untuk menulis hal yang tak kalah provokatif dengan iklan keberhasilan pemerintah.
Sejujurnya saya benar-benar terprovokasi baik oleh Iklan tersebut dan juga karena kabar buruk yang saya dapatkan. Bayangkan saja, sampai dengan Januari tahu 2008 tercatat sebanyak 2.375 kaum perempuan di Kab. Banyumas yang menjadi buruh migran. Semua orang tahu, bahwa bekerja menjadi buruh migran jauh dari tanah air bukanlah pilihan. Keterdesakan ekonomi adalah sebab utamanya.
Nurhayati (28 tahun) warga Desa Besuki, Kec. Lumbir Kab, Banyumas Jawa Tengah, saat ini sudah ada di desa tempat ia tinggal. Tersisa jahitan di atas mata dan bekas luka di pantat, hasil yang ia peroleh dari Bahrain, Saudi Arabia tempat ia bekerja selama ini. Nurhayati saat ini belum bisa banyak diajak bicara, pandangannya kosong. Menurut saya ia mengalami depresi. Belum selesai satu hal ada lagi kasus berikutnya. Kali ini dialami Puji Lestari yang sudah hampir 7 bulan bekerja di Kelantan Malaysia. Ia akan segera di pulangkan ke tanah air untuk mengantispasi keadaan yang tidak diinginkan. Entah apa yang sedang ia alami saat ini, yang pasti keinginan pulang juga dipinta Puji Lestari sendiri.
Mereka adalah bagian kecil dari potret duka kaum perempuan pedesaan di Kab. Banyumas. Juga Kabupaten lain di seluruh penjuru tanah air yang terpaksa harus berjibaku pertaruhkan hidup mati dan harga diri di negri orang. Gembirakah mereka ? Saya pikir siapapun tidak akan gembira dengan jahitan di atas mata. Mereka pasti tahu ada tetangga atau kerabat yang mengalami persoalan serupa saat memutuskan bekerja menjadi buruh migran. Saat kemudian Nurhayati dan Puji Lestari menjadi buruh migran pula, karena tidak tersedianya pilihan lain bagi mereka. Orang desa dan miskin punya pandangan sederhana “Nek kere iku ora susah mikir macem-macem” (Kalau miskin itu tidak usah mikir macam-macam. Adanya cuma bekerja keras, meskipun nyawa taruhannya. Seperti halnya Nurhayati dan Puji Lestari.
Saya tambah terprovokasi lagi (maaf) manakala membaca salah satu bagian iklan dibawahnya yang berkata bahwa program pemerintah yang pro-rakyat itu ibarat menyediakan ikan, kail dan perahu. Tidak habis pikir kemudian benak saya, darimana ia memperoleh istilah semacam. Nurhayati yang bekerja di Bahrain tidak pernah diberi kail apalagi perahu dan dia mencari ikan bukan di negrinya sendiri. Bahkan ia memberi pendapatan kenegrinya. Bayangkan saja pekerjaan itu dilakukan oleh perempuan desa lugu. Kalau benar ada ikan, kail sampai perahu di negri kita sendiri, saya yakin tidak ada lagi Nurhayati dan Puji Lestari lainnya yang terpaksa harus mengungsi dari negri sendiri, mendapatkan bekas-bekas luka serta trauma.

Purwokerto, 26 Oktober 2008
Sabtu 24.22

Monday, October 20, 2008

DEMOKRASI ala TAGOG

Pertama kali mendengar istilahnya agak asing di telinga. Tagog ? Kupikir sejenis kesenian tradisional atau alat musik. Kira-kira seputaran itu. Ternyata TAGOG itu (dalam kosa kata Banyumas red) adalah Orang yang berprofesi sebagai penyeberang dengan menggunakan perahu. Istilah Tagog saya temukan di salah satu Desa di Kecamatan Jatilawang, Kab. Banyumas, Jawa Tengah.
Lantas kira-kira apa yang menarik, buat saya ? Apa hubungannya kemudian dengan demokrasi ?
Saat saya telusuri ternyata menjadi seorang Tagog itu butuh syarat yang tidak mudah. Satu hal pasti harus bisa berenang dan mengemudikan rakit atau perahu penyeberangan. Tak cuma itu ternyata. Menjelang Pemilu 2009 ini Tagog juga beradaptasi dengan situasi politik kontemporer. Sebelumnya seorang Tagog ditunjuk oleh warga setempat, saat ini untuk menjadi Tagog bahkan harus melalui proses pemilihan langsung.
Ceritanya dimulai dari proses pemilihan Tagog di tempat yang saya sebutkan sebelumnya. Tagog baru ini hasil kesepakatan di BPD (Badan Perwakilan Desa) setempat melalui mekanisme pemilihan langsung. Ada kurang lebih 200,-an KK di satu RW yang berdekatan dengan sungai yang menggunakan hak pilihnya. Tidak main-main, bahkan ada pasar taruhannya segala. Layaknya pemilihan kepala desa atau kepala daerah.
Seorang Tagog di daerah ini bertanggung jawab untuk menyeberangkan warga melewati sungai, kira-kira lebarnya sekitar 30 m, kalau musim kemarau tinggi airnya hanya selutut. Tapi kalau musim penghujan seperti saat sekarang bisa mencapai dada orang dewasa. Ada jalan desa sebetulnya, tetapi bagi warga RW setempat tidak efisien, harus melingkari desa baru sampai di jalan besar. Dan setiap kali menyeberangkan pasiennya Tagog tidak memungut bayaran.
Nah sebagai kompensasi dari pekerjaannya, seorang Tagog mendapatkan semacam inventaris (kalau pegawai negri) berupa tanah seluas 2800 m2. Tanah tersebut dikumpulkan dari warga, masing-masing menyisihkan sebagaian dari tanahnya untuk invetaris Tagog. Lumayan khan... Karena kalau dihitung (hasil cerita warga) dengan disewakan saja dalam satu tahun (2 kali masa panen) Tagog bisa memperoleh uang kurang lebih 5 juta. Apalagi kalau di kelola sendiri.
Demokrasi ala Tagog ini masih kental situasi kegotongroyongan dan kesukarelawanan. Beda jauh dengan demokrasi kita, yang kental dengan politik uang dan penuh manipulasi. Bayangin saja, kalau kita memilih kepala daerah, anggota legislatif atau presiden misal, yang kita dapat hanya janji yang tak kunjung terealisasi. Tagog lebih konkrit. Pilih Tagog anda pasti akan diseberangkan setiap saat ketika anda butuh. Tagog SELALU ADA bagi PEMILIHNYA.

Banyumas, 20 Oktober 2008
10.29 Malam

Saturday, October 18, 2008

Suhu Politik Di Banyumas Masih Panas


Tak juga usai rupanya “konflik” (kalau boleh dikategorikan itu) di Rumah Besar Kaum Nasionalis (baca : PDI Perjuangan) Kab. Banyumas. Satu kubu merapat melakukan rekonsiliasi, muncul lagi kubu atau blok baru. Menjadi menarik, karena berkaca dari dinamika politik di tubuh PDI Perjuangan Kab. Banyumas ini kita bisa belajar langsung tentang politik dalam arti sebenarnya.
Terakhir misalnya, saat hampir seluruh media cetak maupun elektronik melansir berita tentang Pembakaran Atribut PDI Perjuangan beberapa hari lalu, apabila kita cermati kita akan temukan banyak hal. Proses alamiahkah itu, sebatas ketidakpuasan lantas di manifestasikan dengan tindakan tertentu. Atau ?
Dalam pandangan saya ada yang melakukan bluffing (menggertak), sebab dalam proses politik hal semacam ini acapkali dilakukan untuk mempertinggi harga tawar satu pihak atas pihak lainnya. Layaknya bumbu dalam masakan, kalau takarannya pas akan beri rasa yang mampu menggoyang lidah. Tapi kalau berlebihan atau kurang, bisa kelabakan dan susah untuk menelannya.
Konon ada yang menengarai ini karena provokasi pihak luar, ada pula yang meyakini orang dalam yang memainkan peran (seperti jamaknya teori konspirasi), sebab di Banyumas PDI Perjuangan sebentar lagi akan punya hajat memilih Ketua. Analisa mana yang benar dan salah, tidak terlalu penting buat saya. Jauh lebih penting adalah menjawab pertanyaan arus bawah yang menunggu dan berharap bahwa rumah besar kaum nasionalis ini benar-benar mampu menjadi rumah yang bisa menjadi tempat bernaung dan mewujud keinginan serta harapan penghuninya. Merdeka !!!

Sunday, September 14, 2008

Lepas Sudah Penat

“ Tidak ada yang dapat memaksa saya menjadi bahagia dengan caranya
(seperti ia membayangkan kebahagiaan itu bagi orang lain).” Immanuel Kant (1794)

Jam di mejaku menunjuk pukul 09.22 WIB. Tepatnya hari Jum’at 12 September 2008. Selesai sudah semuanya. Saat pesonanya telah hilang, yang harus kulakukan adalah terus berjalan ke depan. Apa yang pernah kusepakati akan kulakukan telah kulakukan dengan maksimal, serta buahkan hasil. Lepas sudah rasa penat yang menghimpit. Ini kali terakhir.
Dunia mewujud konon hasil dari bekerjanya nalar dan kerja kita. Mau menjadi lintang pukang atau sesuai dengan pengharapan, semuanya sekali lagi konon tergantung pada kita. Pelakunya atau orang yang secara kebetulan ada di lintasan sejarah itu. Ada yang ibaratkan selayaknya permainan catur. Satu langkah menentukan kemenangan… Sayangnya tak cukup pandai aku bermain catur. Padahal permainan itu selama ini diidentikan dengan suku tempatku berasal. Orang Batak tidak pintar bermain catur…he…he…he. 
Kalau Ahmad Albar bilang dunia ini panggung sandiwara. Jadi lebih sulit lagi kemudian, mengingat aku selama ini hanya penikmat seni pertunjukan. Darah seni lagi-lagi tak menetes dalam tubuhku…Apalagi jadi sutradara atau orang yang ada dibalik layer, boro-boro…
Apa yang sebetulnya dicari ? Beberapa orang yang kutemui berkata : “Rasa Bahagia.” Ada yang hanya dengan makan nasi dengan lauk tahu dan tempe, satu kali sehari sudah bahagia. Ada yang harus miliki semua hal dulu baru bahagia. Bahagia artinya menjadi sangat relatif. Satu orang dengan lainnya berbeda. Kalau aku bahagia hari ini karena telah lepas dari penat...
   
  Jakarta, September 2008




Whatever…Will Be…Will Be...

Apapun yang terjadi, terjadilah. Naif terlihatnya. Seakan hanya pasrah untuk ditelan nasib. Tanpa rencana dan tanpa antisipasi. Ternyata usut punya usut bukan semacam itu. Ada sekian hal yang sudah dilakukan, berikut rencana yang sudah pula dikalkulasikan secara detail, satu demi satu. Jika kemudian pada akhirnya tak sesuai harapan maka…whatever… will be…will be…
Hari ini ada yang berkata kau itu A…B…dan C. Awalnya kutanggapi serius lontaran itu, sebab tidak berdasar. Tanpa ada angin dan ada hujan tiba-tiba dibuat sebuah kesimpulan dan aku dipaksa untuk mengakui kebenarannya. Boleh, kesimpulan itu disematkan padaku. Jika itu dilakukan 2 atau 3 tahun lalu. Masih ada permakluman, mengingat banyak kekurangan dan kesalahan yang kulakukan. Sekarang, terpaan badai dan batu karang keraspun tak bisa hentikan kaki-ku yang sudah terlanjur tapaki jalan...what ever...will be...will be...
Dua minggu lalu A dengan muka masam berkesimpulan bahwa tidak ada yang peduli dengannya. Dia katakan langkah yang dipilihnya hasil dari bujukan dan dorongan orang lain. Karena itu saatnya sekarang orang-orang harus bertanggungjawab atas apa yang ia pilih dan lakukan. Terbit rasa iba, mengingat beban yang harus ia tanggung. Itu awalnya, sebelum semakin banyak tuntutan yang diajukan. Mungkinkah orang lain bisa sedemikian jauh mengotak-atik nalar seseorang dan mendikte apa kemauannya ? Seberapa hebatkah daya pengaruh orang atas orang lainnya ? Rasanya ingin tertawa, bukan atas beban yang dialaminya. Tetapi atas kesimpulannya yang membabi buta. Apalagi A sendiri yang nantinya akan mendapatkan dan merasakan secara langsung buah dari apa yang hendak ia jalani. Susah memang, tapi ...whatever...will be...will be...
Kolektivitas...kata ini nyaris tak miliki makna apa-apa lagi buatku. Enak diucapkan tak enak dilakukan. Sebab akan banyak menuntut. Mampukah kita ? Itu pertanyaannya. Salah-salah, niat baik kita akan dimaknai sebaliknya. Hidup tak semudah yang terlihat. Tunggang langgang. Jika tak cermat dan jeli kita bisa jatuh tanpa sempat bisa bangun lagi. Kolektivitas atau apapun...whatever...will be...will be...
Jadilah kunang-kunang, yang bisa memberi terang sekitarmu. Itu kata bijak yang meluncur dari mulut seorang kawanku, konon itu punya faedah agar hidup kita yang singkat miliki banyak makna. Saat sekarang kupikir, jadi apapun tidak soal. Sekali waktu kita perlu menjadi ulat yang bentuknya buruk. Orangpun enggan menyentuh karena jijik, takut dan seterusnya. Lain waktu pula kita perlu berdiam diri, meski orang akan katakan kita bukan siapa-siapa, memandangpun dengan sebelah mata. Dan jika waktu masih berpihak, kita akan menjela ke langit dan sentuhi ujungnya dengan menjadi kupu-kupu. Atau...what ever...will be...will be...
Punya perasaan itu juga tidak mudah. Seringkali buat serba salah dan ragu-ragu. Perasaan pula yang buat kita miliki dorongan kuat untuk lakukan sesuatu bahkan tanpa perlu berpikir panjang. Juga membuat serasa didera rasa sakit yang tak berkesudahan manakala kehilangan. Sesaat kita lupa bahwa ”...selalu ada yang hilang dan tak tergantikan...” Hidup memang tidak mudah...whatever ...will be...will be. 

Kamar Tidur, Tengah Malam
sept 2008