Sunday, September 14, 2008

Lepas Sudah Penat

“ Tidak ada yang dapat memaksa saya menjadi bahagia dengan caranya
(seperti ia membayangkan kebahagiaan itu bagi orang lain).” Immanuel Kant (1794)

Jam di mejaku menunjuk pukul 09.22 WIB. Tepatnya hari Jum’at 12 September 2008. Selesai sudah semuanya. Saat pesonanya telah hilang, yang harus kulakukan adalah terus berjalan ke depan. Apa yang pernah kusepakati akan kulakukan telah kulakukan dengan maksimal, serta buahkan hasil. Lepas sudah rasa penat yang menghimpit. Ini kali terakhir.
Dunia mewujud konon hasil dari bekerjanya nalar dan kerja kita. Mau menjadi lintang pukang atau sesuai dengan pengharapan, semuanya sekali lagi konon tergantung pada kita. Pelakunya atau orang yang secara kebetulan ada di lintasan sejarah itu. Ada yang ibaratkan selayaknya permainan catur. Satu langkah menentukan kemenangan… Sayangnya tak cukup pandai aku bermain catur. Padahal permainan itu selama ini diidentikan dengan suku tempatku berasal. Orang Batak tidak pintar bermain catur…he…he…he. 
Kalau Ahmad Albar bilang dunia ini panggung sandiwara. Jadi lebih sulit lagi kemudian, mengingat aku selama ini hanya penikmat seni pertunjukan. Darah seni lagi-lagi tak menetes dalam tubuhku…Apalagi jadi sutradara atau orang yang ada dibalik layer, boro-boro…
Apa yang sebetulnya dicari ? Beberapa orang yang kutemui berkata : “Rasa Bahagia.” Ada yang hanya dengan makan nasi dengan lauk tahu dan tempe, satu kali sehari sudah bahagia. Ada yang harus miliki semua hal dulu baru bahagia. Bahagia artinya menjadi sangat relatif. Satu orang dengan lainnya berbeda. Kalau aku bahagia hari ini karena telah lepas dari penat...
   
  Jakarta, September 2008




Whatever…Will Be…Will Be...

Apapun yang terjadi, terjadilah. Naif terlihatnya. Seakan hanya pasrah untuk ditelan nasib. Tanpa rencana dan tanpa antisipasi. Ternyata usut punya usut bukan semacam itu. Ada sekian hal yang sudah dilakukan, berikut rencana yang sudah pula dikalkulasikan secara detail, satu demi satu. Jika kemudian pada akhirnya tak sesuai harapan maka…whatever… will be…will be…
Hari ini ada yang berkata kau itu A…B…dan C. Awalnya kutanggapi serius lontaran itu, sebab tidak berdasar. Tanpa ada angin dan ada hujan tiba-tiba dibuat sebuah kesimpulan dan aku dipaksa untuk mengakui kebenarannya. Boleh, kesimpulan itu disematkan padaku. Jika itu dilakukan 2 atau 3 tahun lalu. Masih ada permakluman, mengingat banyak kekurangan dan kesalahan yang kulakukan. Sekarang, terpaan badai dan batu karang keraspun tak bisa hentikan kaki-ku yang sudah terlanjur tapaki jalan...what ever...will be...will be...
Dua minggu lalu A dengan muka masam berkesimpulan bahwa tidak ada yang peduli dengannya. Dia katakan langkah yang dipilihnya hasil dari bujukan dan dorongan orang lain. Karena itu saatnya sekarang orang-orang harus bertanggungjawab atas apa yang ia pilih dan lakukan. Terbit rasa iba, mengingat beban yang harus ia tanggung. Itu awalnya, sebelum semakin banyak tuntutan yang diajukan. Mungkinkah orang lain bisa sedemikian jauh mengotak-atik nalar seseorang dan mendikte apa kemauannya ? Seberapa hebatkah daya pengaruh orang atas orang lainnya ? Rasanya ingin tertawa, bukan atas beban yang dialaminya. Tetapi atas kesimpulannya yang membabi buta. Apalagi A sendiri yang nantinya akan mendapatkan dan merasakan secara langsung buah dari apa yang hendak ia jalani. Susah memang, tapi ...whatever...will be...will be...
Kolektivitas...kata ini nyaris tak miliki makna apa-apa lagi buatku. Enak diucapkan tak enak dilakukan. Sebab akan banyak menuntut. Mampukah kita ? Itu pertanyaannya. Salah-salah, niat baik kita akan dimaknai sebaliknya. Hidup tak semudah yang terlihat. Tunggang langgang. Jika tak cermat dan jeli kita bisa jatuh tanpa sempat bisa bangun lagi. Kolektivitas atau apapun...whatever...will be...will be...
Jadilah kunang-kunang, yang bisa memberi terang sekitarmu. Itu kata bijak yang meluncur dari mulut seorang kawanku, konon itu punya faedah agar hidup kita yang singkat miliki banyak makna. Saat sekarang kupikir, jadi apapun tidak soal. Sekali waktu kita perlu menjadi ulat yang bentuknya buruk. Orangpun enggan menyentuh karena jijik, takut dan seterusnya. Lain waktu pula kita perlu berdiam diri, meski orang akan katakan kita bukan siapa-siapa, memandangpun dengan sebelah mata. Dan jika waktu masih berpihak, kita akan menjela ke langit dan sentuhi ujungnya dengan menjadi kupu-kupu. Atau...what ever...will be...will be...
Punya perasaan itu juga tidak mudah. Seringkali buat serba salah dan ragu-ragu. Perasaan pula yang buat kita miliki dorongan kuat untuk lakukan sesuatu bahkan tanpa perlu berpikir panjang. Juga membuat serasa didera rasa sakit yang tak berkesudahan manakala kehilangan. Sesaat kita lupa bahwa ”...selalu ada yang hilang dan tak tergantikan...” Hidup memang tidak mudah...whatever ...will be...will be. 

Kamar Tidur, Tengah Malam
sept 2008