Pertama kali mendengar istilahnya agak asing di telinga. Tagog ? Kupikir sejenis kesenian tradisional atau alat musik. Kira-kira seputaran itu. Ternyata TAGOG itu (dalam kosa kata Banyumas red) adalah Orang yang berprofesi sebagai penyeberang dengan menggunakan perahu. Istilah Tagog saya temukan di salah satu Desa di Kecamatan Jatilawang, Kab. Banyumas, Jawa Tengah.
Lantas kira-kira apa yang menarik, buat saya ? Apa hubungannya kemudian dengan demokrasi ?
Saat saya telusuri ternyata menjadi seorang Tagog itu butuh syarat yang tidak mudah. Satu hal pasti harus bisa berenang dan mengemudikan rakit atau perahu penyeberangan. Tak cuma itu ternyata. Menjelang Pemilu 2009 ini Tagog juga beradaptasi dengan situasi politik kontemporer. Sebelumnya seorang Tagog ditunjuk oleh warga setempat, saat ini untuk menjadi Tagog bahkan harus melalui proses pemilihan langsung.
Ceritanya dimulai dari proses pemilihan Tagog di tempat yang saya sebutkan sebelumnya. Tagog baru ini hasil kesepakatan di BPD (Badan Perwakilan Desa) setempat melalui mekanisme pemilihan langsung. Ada kurang lebih 200,-an KK di satu RW yang berdekatan dengan sungai yang menggunakan hak pilihnya. Tidak main-main, bahkan ada pasar taruhannya segala. Layaknya pemilihan kepala desa atau kepala daerah.
Seorang Tagog di daerah ini bertanggung jawab untuk menyeberangkan warga melewati sungai, kira-kira lebarnya sekitar 30 m, kalau musim kemarau tinggi airnya hanya selutut. Tapi kalau musim penghujan seperti saat sekarang bisa mencapai dada orang dewasa. Ada jalan desa sebetulnya, tetapi bagi warga RW setempat tidak efisien, harus melingkari desa baru sampai di jalan besar. Dan setiap kali menyeberangkan pasiennya Tagog tidak memungut bayaran.
Nah sebagai kompensasi dari pekerjaannya, seorang Tagog mendapatkan semacam inventaris (kalau pegawai negri) berupa tanah seluas 2800 m2. Tanah tersebut dikumpulkan dari warga, masing-masing menyisihkan sebagaian dari tanahnya untuk invetaris Tagog. Lumayan khan... Karena kalau dihitung (hasil cerita warga) dengan disewakan saja dalam satu tahun (2 kali masa panen) Tagog bisa memperoleh uang kurang lebih 5 juta. Apalagi kalau di kelola sendiri.
Demokrasi ala Tagog ini masih kental situasi kegotongroyongan dan kesukarelawanan. Beda jauh dengan demokrasi kita, yang kental dengan politik uang dan penuh manipulasi. Bayangin saja, kalau kita memilih kepala daerah, anggota legislatif atau presiden misal, yang kita dapat hanya janji yang tak kunjung terealisasi. Tagog lebih konkrit. Pilih Tagog anda pasti akan diseberangkan setiap saat ketika anda butuh. Tagog SELALU ADA bagi PEMILIHNYA.
Banyumas, 20 Oktober 2008
10.29 Malam
Monday, October 20, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


1 comments:
demokrasi a la tagog, sebuah demokrasi lokal yang begitu manfaati bagi yang lain. lantas mengapa demokrasi "besar" kita tak bisa semacam itu?
sepertinya kang febri juga harus menjawabnya.
Post a Comment