Tuesday, October 28, 2008

NURHAYATI dan PUJI LESTARI, DUKA KAUM PEREMPUAN di BANYUMAS

Partai Demokrat sebagai representasi SBY berkata bahwa pencapaian pemerintahnya selama tahun 2004-2008 telah berhasil menurunkan angka pengangguran menjadi 8,5 % dan angka kemiskinan tinggal 15,4 %. Pesan ini dikemas secara provokatif dengan membeli separuh halaman muka, harian Kompas, Senin 20 Oktober 2008. Dipropagandakan pula beberapa hal yang kesimpulannya SBY telah sungguh-sungguh ”Berjuang Untuk Rakyat.”
Sah sebetulnya hal tersebut dilakukan. Mengingat hajat besar PEMILU sudah di depan mata. Semua pihak yang berkepentingan untuk menang berlomba-lomba, dengan berbagai macam cara untuk merebut hati pemilihnya. Salah satunya adalah berpropaganda atau melakukan marketing politik melalui media massa. Lewat medialah shortcut terhadap ingatan masyarakat dilakukan. Agar publik mengamini dan meyakini sebagai yang paling baik dan layak.
Yang menggelitik kemudian adalah cerita dari seseorang yang kebetulan dekat dengan saya beberapa hari lalu. Beliau menuturkan nasib tragis dua orang perempuan yang dianiaya oleh majikannya di tanah orang. Sementara di tangan saya ada lembaran koran yang berisi hal baik, keberhasilan dan optimisme. Gatal kemudian tangan saya untuk menulis hal yang tak kalah provokatif dengan iklan keberhasilan pemerintah.
Sejujurnya saya benar-benar terprovokasi baik oleh Iklan tersebut dan juga karena kabar buruk yang saya dapatkan. Bayangkan saja, sampai dengan Januari tahu 2008 tercatat sebanyak 2.375 kaum perempuan di Kab. Banyumas yang menjadi buruh migran. Semua orang tahu, bahwa bekerja menjadi buruh migran jauh dari tanah air bukanlah pilihan. Keterdesakan ekonomi adalah sebab utamanya.
Nurhayati (28 tahun) warga Desa Besuki, Kec. Lumbir Kab, Banyumas Jawa Tengah, saat ini sudah ada di desa tempat ia tinggal. Tersisa jahitan di atas mata dan bekas luka di pantat, hasil yang ia peroleh dari Bahrain, Saudi Arabia tempat ia bekerja selama ini. Nurhayati saat ini belum bisa banyak diajak bicara, pandangannya kosong. Menurut saya ia mengalami depresi. Belum selesai satu hal ada lagi kasus berikutnya. Kali ini dialami Puji Lestari yang sudah hampir 7 bulan bekerja di Kelantan Malaysia. Ia akan segera di pulangkan ke tanah air untuk mengantispasi keadaan yang tidak diinginkan. Entah apa yang sedang ia alami saat ini, yang pasti keinginan pulang juga dipinta Puji Lestari sendiri.
Mereka adalah bagian kecil dari potret duka kaum perempuan pedesaan di Kab. Banyumas. Juga Kabupaten lain di seluruh penjuru tanah air yang terpaksa harus berjibaku pertaruhkan hidup mati dan harga diri di negri orang. Gembirakah mereka ? Saya pikir siapapun tidak akan gembira dengan jahitan di atas mata. Mereka pasti tahu ada tetangga atau kerabat yang mengalami persoalan serupa saat memutuskan bekerja menjadi buruh migran. Saat kemudian Nurhayati dan Puji Lestari menjadi buruh migran pula, karena tidak tersedianya pilihan lain bagi mereka. Orang desa dan miskin punya pandangan sederhana “Nek kere iku ora susah mikir macem-macem” (Kalau miskin itu tidak usah mikir macam-macam. Adanya cuma bekerja keras, meskipun nyawa taruhannya. Seperti halnya Nurhayati dan Puji Lestari.
Saya tambah terprovokasi lagi (maaf) manakala membaca salah satu bagian iklan dibawahnya yang berkata bahwa program pemerintah yang pro-rakyat itu ibarat menyediakan ikan, kail dan perahu. Tidak habis pikir kemudian benak saya, darimana ia memperoleh istilah semacam. Nurhayati yang bekerja di Bahrain tidak pernah diberi kail apalagi perahu dan dia mencari ikan bukan di negrinya sendiri. Bahkan ia memberi pendapatan kenegrinya. Bayangkan saja pekerjaan itu dilakukan oleh perempuan desa lugu. Kalau benar ada ikan, kail sampai perahu di negri kita sendiri, saya yakin tidak ada lagi Nurhayati dan Puji Lestari lainnya yang terpaksa harus mengungsi dari negri sendiri, mendapatkan bekas-bekas luka serta trauma.

Purwokerto, 26 Oktober 2008
Sabtu 24.22

Monday, October 20, 2008

DEMOKRASI ala TAGOG

Pertama kali mendengar istilahnya agak asing di telinga. Tagog ? Kupikir sejenis kesenian tradisional atau alat musik. Kira-kira seputaran itu. Ternyata TAGOG itu (dalam kosa kata Banyumas red) adalah Orang yang berprofesi sebagai penyeberang dengan menggunakan perahu. Istilah Tagog saya temukan di salah satu Desa di Kecamatan Jatilawang, Kab. Banyumas, Jawa Tengah.
Lantas kira-kira apa yang menarik, buat saya ? Apa hubungannya kemudian dengan demokrasi ?
Saat saya telusuri ternyata menjadi seorang Tagog itu butuh syarat yang tidak mudah. Satu hal pasti harus bisa berenang dan mengemudikan rakit atau perahu penyeberangan. Tak cuma itu ternyata. Menjelang Pemilu 2009 ini Tagog juga beradaptasi dengan situasi politik kontemporer. Sebelumnya seorang Tagog ditunjuk oleh warga setempat, saat ini untuk menjadi Tagog bahkan harus melalui proses pemilihan langsung.
Ceritanya dimulai dari proses pemilihan Tagog di tempat yang saya sebutkan sebelumnya. Tagog baru ini hasil kesepakatan di BPD (Badan Perwakilan Desa) setempat melalui mekanisme pemilihan langsung. Ada kurang lebih 200,-an KK di satu RW yang berdekatan dengan sungai yang menggunakan hak pilihnya. Tidak main-main, bahkan ada pasar taruhannya segala. Layaknya pemilihan kepala desa atau kepala daerah.
Seorang Tagog di daerah ini bertanggung jawab untuk menyeberangkan warga melewati sungai, kira-kira lebarnya sekitar 30 m, kalau musim kemarau tinggi airnya hanya selutut. Tapi kalau musim penghujan seperti saat sekarang bisa mencapai dada orang dewasa. Ada jalan desa sebetulnya, tetapi bagi warga RW setempat tidak efisien, harus melingkari desa baru sampai di jalan besar. Dan setiap kali menyeberangkan pasiennya Tagog tidak memungut bayaran.
Nah sebagai kompensasi dari pekerjaannya, seorang Tagog mendapatkan semacam inventaris (kalau pegawai negri) berupa tanah seluas 2800 m2. Tanah tersebut dikumpulkan dari warga, masing-masing menyisihkan sebagaian dari tanahnya untuk invetaris Tagog. Lumayan khan... Karena kalau dihitung (hasil cerita warga) dengan disewakan saja dalam satu tahun (2 kali masa panen) Tagog bisa memperoleh uang kurang lebih 5 juta. Apalagi kalau di kelola sendiri.
Demokrasi ala Tagog ini masih kental situasi kegotongroyongan dan kesukarelawanan. Beda jauh dengan demokrasi kita, yang kental dengan politik uang dan penuh manipulasi. Bayangin saja, kalau kita memilih kepala daerah, anggota legislatif atau presiden misal, yang kita dapat hanya janji yang tak kunjung terealisasi. Tagog lebih konkrit. Pilih Tagog anda pasti akan diseberangkan setiap saat ketika anda butuh. Tagog SELALU ADA bagi PEMILIHNYA.

Banyumas, 20 Oktober 2008
10.29 Malam

Saturday, October 18, 2008

Suhu Politik Di Banyumas Masih Panas


Tak juga usai rupanya “konflik” (kalau boleh dikategorikan itu) di Rumah Besar Kaum Nasionalis (baca : PDI Perjuangan) Kab. Banyumas. Satu kubu merapat melakukan rekonsiliasi, muncul lagi kubu atau blok baru. Menjadi menarik, karena berkaca dari dinamika politik di tubuh PDI Perjuangan Kab. Banyumas ini kita bisa belajar langsung tentang politik dalam arti sebenarnya.
Terakhir misalnya, saat hampir seluruh media cetak maupun elektronik melansir berita tentang Pembakaran Atribut PDI Perjuangan beberapa hari lalu, apabila kita cermati kita akan temukan banyak hal. Proses alamiahkah itu, sebatas ketidakpuasan lantas di manifestasikan dengan tindakan tertentu. Atau ?
Dalam pandangan saya ada yang melakukan bluffing (menggertak), sebab dalam proses politik hal semacam ini acapkali dilakukan untuk mempertinggi harga tawar satu pihak atas pihak lainnya. Layaknya bumbu dalam masakan, kalau takarannya pas akan beri rasa yang mampu menggoyang lidah. Tapi kalau berlebihan atau kurang, bisa kelabakan dan susah untuk menelannya.
Konon ada yang menengarai ini karena provokasi pihak luar, ada pula yang meyakini orang dalam yang memainkan peran (seperti jamaknya teori konspirasi), sebab di Banyumas PDI Perjuangan sebentar lagi akan punya hajat memilih Ketua. Analisa mana yang benar dan salah, tidak terlalu penting buat saya. Jauh lebih penting adalah menjawab pertanyaan arus bawah yang menunggu dan berharap bahwa rumah besar kaum nasionalis ini benar-benar mampu menjadi rumah yang bisa menjadi tempat bernaung dan mewujud keinginan serta harapan penghuninya. Merdeka !!!