“Menjadi Menko Kesra itu Urusannya Akhirat.”
Mulia sekali seakan pernyataan salah seorang mentri kabinet SBY sekarang ini. Pertanyaannya benarkah semulia atau seluhur itu seseorang yang menjabat mentri sebuah kabinet pemerintah itu ?
Mulia atau tidak secara pribadi saya tidak tahu. Sebab siapa sih yang bisa menduga apa yang ada dibalik benak seseorang. Apalagi benak seorang mentri. Boro-boro menebak, kenal atau ketemu saja tidak pernah. Yang pasti menjadi seorang mentri itu enak. Itu kesimpulan sementara saya (meski saya tidak pernah jadi mentri). Kalau tidak enak, mana mungkin jabatan semacam jadi perebutan, target atau alasan satu partai berkoaliasi atau mendukung partai lain setiap kali pemilu berlangsung.
Alasan kedua, karena menjadi mentri itu banyak memiliki kemudahan, privelege serta fasilitas. Di jaman Orde Lama mungkin masih agak percaya saya kalau ada yang berkata menjadi mentri itu banyak susahnya, kalau saat ini saya rasa tidak ada hal seperti itu. Menjadi mentri atau pejabat susah manakala mereka sedang terjerat masalah, entah karena diduga korupsi, tersiar informasi yang bersangkutan akan diganti atau seperti mentri kita yang sedang terkena gelombang krisis global sehingga gelar orang terkaya hanya tersemat sebentar (mampir) di dirinya. Belum selesai Lapindo, eh terhantam krisis. Pusing mungkin mentri kita satu ini.
Meski sedang susah (baca : mungkin), mentri kita ini tetap licah. Maklumlah, selain juragan besar, beliau ini seorang politisi handal. Buktinya, posisinya sebagai mentri tetap. Tak beranjak sejengkalpun, meski banyak gugatan atau demonstrasi masyarakat. Dan ia masih sempat memoles diri, tampil dalam sebuah acara televisi. Saya yakin, yang terekam di benak masyarakat bahwa mentri kita ini benar-benar tulus mengabdi, rendah hati dan hanya mengurusi akhirat.
Kita tentu ingat bahwa di masa sekarang, tampil di televisi menjadi satu jurus ampuh untuk memoles diri dan memunculkan citra baru. Sim salabim, berubahlah wajah mentri kita ini. Dari semula dituding penyebab masalah, menjadi layaknya korban.
Ya, mau bagaimana lagi. Beginilah dunia kita sekarang. Toh dia juga yang memiliki alat sihir untuk memoles citra, yang bernama televisi. Suka-suka dialah, mau memolesnya seperti apa. Dunia toh hanya memberi tempat bagi yang kuat.
Sunday, February 8, 2009
Subscribe to:
Posts (Atom)

